Follow me :

Senin, 29 Maret 2010

suara rakyat, suara Tuhan


Vox populi, vox dei; suara rakyat adalah suara Tuhan.

Dalam Islam tidak ada keterangan yang menyebutkan
bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Yang ada adalah
sebuah hadis senada yang menyebutkan bahwa 'Tidak
mungkin ummatku bersepakat pada kesesatan atau kesalahan'
(Sunan Ibn Majah, Hadis Nomor 3940).

Sepeninggal Nabi Muhammad SAW -yang dipercaya sebagai
tokoh yang ma'shum, tanpa kesalahan, ummat Islam hanya
bisa mencapai derajat 'ma'shum' lewat kesepakatan total
di antara mereka. Inilah yang kemudian melahirkan
doktrin Ijma' dalam struktur hukum Islam. Sayangnya,
sejarah menunjukkan bahwa ummat Islam sendiri memiliki
perbedaan pendapat soal kesepakatan ini sampai pada
hal yang sangat tekhnis. Walhasil, tidak dicapai
Ijma' (kesepakatan) dalam merumuskan apa
itu Ijma'.

Sejarah juga mencatat bahwa kegagalan mencapai
kesepakatan tersebut kemudian melahirkan berbagai
bentuk 'kompromi'. Misalnya, andaikata semua ulama telah
sepakat pada satu hal, maka ini dipandang cukup
mewakili kesepakatan ummat Islam secara total.
Hal ini kemudian bergeser lagi karena ternyata cukup
sulit menyatukan pendapat para ulama itu. Kebenaran
bukan lagi dilihat berdasarkan kesepakatan total
ummat Islam atau kesepakatan ulama, melainkan suara
mayoritas di antara para ulama.

Jikalau kitab-kitab fiqh sudah menyebut bahwa
pendapat A dipegang oleh jumhur (mayoritas) ulama,
jarang ummat Islam berani membantah atau,
setidak-tidaknya, bersikap kritis.

Mayoritas telah memegang otoritas kebenaran.
Kebenaran bukan lagi ditentukan oleh kekuatan dalil
dan logika, namun mengikuti jumlah pemegang
pendapat tersebut. Berbeda dengan istilah Ijma',
lahir istilah baru untuk menggambarkan pergeseran ini,
yaitu ittifaq. Sehinga kalau ditemukan kalimat bahwa
para ulama sudah ittifaq untuk berpendapat A,
boleh jadi yang dimaksud sebenarnya adalah hanya
kesepakatan para ulama dari mazhab empat
(Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali),
padahal jumlah mazhab dalam Islam konon pernah
mencapai bilangan lima ratus.

Masalahnya ternyata tidak mudah menentukan apakah
satu pendapat itu didukung oleh mayoritas atau minoritas.
Boleh jadi pendapat A didukung oleh mayoritas pada
suatu masa di suatu tempat tertentu. Namun di masa lain
atau di tempat lain, boleh jadi yang mayoritas adalah B.

Problem kedua, Bagaimana cara menghitung "kursi"
mayoritas tersebut? Karena belum pernah dihitung lewat pemilu,
maka kitab-kitab fiqh diduga kuat hanya melakukan perhitungan
secara umum saja. Boleh jadi, problem ini menimbulkan
saling klaim di antara mereka.

Dalam kasus Indonesia, kita memiliki mekanisme
untuk menghitung suara mayoritas dan dukungan rakyat,
yaitu lewat pemilu. Ketika Golkar dulu menang sampai
lebih dari lima puluh persen, adakah kita dengar
suara Tuhan menyertai suara rakyat Indonesia
selama tiga puluh dua tahun?

Kata rakyat dalam Orde Baru sering dijadikan bahan
untuk mengklaim satu kepentingan. Kata tersebut
juga sering dianggap cukup diwakili oleh anggota DPR.
Lebih parah lagi, pernah terjadi di suatu masa di Orde Baru,
kata rakyat menjadi berkesan sosialisme atau bahkan
komunisme, sehingga banyak yang takut dengan istilah
ekonomi kerakyatan, misalnya.

Sepertinya nilai – nilai Pancasila sudah tidak lagi ada di dalam dada masing – masing pejabat kita.Bisa juga mereka sudah lupa , atau sudah tidak lagi mau menghayati apa yang terkandung dalam bait – bait lagu kebangsaan Indonesia Raya , Dengan demikian akan sulit untuk membangun bangsa, bila pejabat atau penguasa kita tidak pernah mau atau tidak berkeinginan membangun jiwa dan moralnya sendiri,sebelum berangkat membangun negeri ini . Yang akan terjadi hanyalah sebuah demokrasi sebatas mimpi , penguasa maupun wakil rakyat hanya akan saling berebut menguras kekayaan Negara.

Ibu Pertiwi menangis melihat perilaku –perilaku penguasa negeri ini , semakin berani dan tak lagi malu menelantarkan rakyatnya.hanya untuk mengeruk keuntungan pribadi dan golongannya sendiri.Rakyat negeri ini telah sangat lama terlantar ,diombang –ambingkan ketidakpastian penguasa. Pejabat kita sudah tak ingat bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan ,dan bila itu sampai terjadi bagaimana nasib negeri ini.

Masih melekat di ingatan kita bagaimana berbagai peristiwa dalam menuju proses reformasi, tidak sedikit yang menjadi korban ,’’haruskah mereka mati sia –sia atau hanya sebagai tumbal untuk memenangkan suatu kelompok dalam melengserkan penguasa yang terdahulu’’? Dengan tulisan ini saya sebagai rakyat , sangat berharap para penguasa dan para wakil rakyat untuk cepat sadar dan kembali ke jalan yang lurus dan benar . Karena Indonesia membutuhkan penguasa dan wakil – wakil rakyat yang baik ,jujur dan cerdas.

0 komentar:

Poskan Komentar