Follow me :

Kamis, 04 Maret 2010

Demokrasi Pemilu Indonesia Terancam?

Jakarta, Indonesia Damai – Sebagian pengamat pemilu mengabarkan kepada kita, demokrasi dalam Pemilu Indonesia sudah tidak akan terkalahkan lagi. Sementara, pada saat yang bersamaan ada sekelompok orang yang menginginkan digantinya demokrasi dengan bentuk pemerintahan Indonesia yang bersumber pada nilai-nilai keTuhanan/ Teokrasi. Apakah ini merupakan indikasi bahwa Demokrasi di Indonesia terancam? Atau adanya semacam keinginan untuk mempertemukan konsep negara Tuhan dengan konsep manusiawi, sedangkan manusia diciptakan oleh Tuhan? Sikap apriori dalam menjawab fenomena kekinian seperti terlihat di atas hanya akan membawa kita pada polarisasi di mana muncul sikap subyektivisme kelompok. Mari kita telaah segi-segi dominan dalam dua bentuk pemerintahan di atas. Jika mau jujur, tentu saja Negara Tuhan seperti yang dicita-citakan oleh Augustinus lah yang paling ideal kita terapkan, hanya segalanya memang kembali kepada kita, manusia, warga negara, dan pemerintah Indonesia. Konsep semulia apa pun, aturan sehebat apa pun, jika manusia-manusia yang menjadi penghuni sebuah negara terdiri dari kelompok-kelompok yang belum tercerahkan, tetap akan gagal dan menemui kebuntuan. Begitu pun demokrasi di Indonesia. Demokrasi yang konon menurut Aristoteles merupakan bentuk penyimpangan dari bentuk pemerintahan politea adalah bentuk buruk karena demokrasi atau kekuasaan berada di tangan rakyat, rakyat yang dimaksud adalah kelompok mayoritas yang tidak memiliki akses apa pun atau miskin. Jika pada bentuk politea kekuasaan akan diarahkan untuk kepentingan bersama, maka pada bentuk demokrasi ini kekuasaan akan diarahkan untuk kepentingan kelompok besar saja. Tentu saja, jika kita membaca mentalitas kita dengan hukum x = bukan x, rakyat= bukan rakyat, atau rakyat = wakil rakyat, maka hanya minoritas lah yang akan mencicipi kue demokrasi ini. Mari kita pandang demokrasi dengan sikap aposteriori. Saat ini demokrasi merupakan bentuk negara ideal, tidak terkalahkan, bahkan mantan presiden Amerika Serikat, Goerge Walker Bush menyebut “demokrasi sudah mencapai titik final, mereka tidak akan mengalahkan demokrasi di Indonesia.” Faktanya? Hampir semua negara menganut bentuk pemerintahan ini. Namun, pada sisi lain, dalam clash of civilization, Samuel Huntington menyebut bahwa demokrasi pada akhirnya akan menemukan sebuah batu sandungan. Hal itu akan tetap terjadi meskipun para pengusung demokrasi mempetahankan agar demokrasi tidak terkalahkan. Mari kita analiasis, apa penyebab demokrasi di Indonesia tetap akan tergantikan?

1. Sehebat apa pun bentuk pemerintahan Indonesia, karena yang memegang kendali pemerintahan adalah manusia tetap akan mengalami siklus kekuasaan, perputaran bentuk pemerintahan di Indonesia ini adalah sebuah keniscayaan, hal yang tidak terbantahkan, mau tidak mau memang harus dilalui.

2. Manusia akan senantiasa mencari konsep-konsep ideal bentuk pemerintahan Indonesia, segalanya akan berujung pada digantinya satu bentuk negara oleh bentuk yang lainnya.

3. Yang membawa kemunduran demokrasi adalah karena cacatnya warga negara, kurang tegasnya penguasa, dan mandulnya peraturan yang dibuat Maka, melihat tiga alasan di atas, benarkah demokrasi pemilu indonesia terancam? Ya, jika warga negara dan pemimpin Indonesia tersebut ada dalam kondisi seperti pada point ke-tiga. Tapi jika tidak? Biarkanlah waktu akan menjawab kapan bentuk pemerintahan demokrasi Indonesia ini akan diganti dan diuji, tentu oleh bentuk pemerintahan monarki. Harapannya adalah semoga saja kampanye damai pemilu indonesia 2009 tidak terancam! Salam kampanye damai!

sumber : kampanyepemilu2009indonesiadamai.wordpress.com

0 komentar:

Posting Komentar